MantanMantan Komisioner KPI dan Dosen Unhas, Aswar Hasan Meninggal Dunia: Rektor Unhas Berduka atas Kehilangan Sang Pemikir Visioner
News Buroko- Dunia akademik dan penyiaran Indonesia berduka. Prof. Aswar Hasan, dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), telah menghembuskan napas terakhirnya di RS Primaya Makassar. Jenazah almarhum disemayamkan di kediaman duka, Jalan Ikhlas, Toddopuli X, Perumahan 9 Petak Makassar, untuk dimuliakan sebelum prosesi pemakaman.

Baca Juga: Buka Pelatihan Terpadu Kesehatan Jiwa, Wabup Deddy: Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik
Rektor Unhas: “Kami Kehilangan Sosok Pemikir yang Konsisten dan Visioner”
Kabar duka ini menyisakan lara mendalam bagi Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa (JJ). Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan betapa beratnya kehilangan sosok yang tidak hanya cemerlang dalam akademik, tetapi juga konsisten menyebarkan ilmu dan gagasan hingga akhir hayatnya.
“Ini kabar yang sangat berat. Saya belum siap kehilangan seorang sahabat sekaligus kolega yang begitu gigih dalam berbagi pengetahuan, pemikiran, dan kepedulian terhadap bangsa,” ucap JJ dengan nada haru.
Aswar Hasan: Intelektual Publik yang Menulis untuk Pencerahan Bangsa
JJ mengenang almarhum sebagai seorang pemikir yang tidak pernah mengejar popularitas sesaat. Sejak awal karir akademisnya, Aswar Hasan memilih jalan yang jarang dilalui banyak orang: menjadi intelektual publik yang menulis bukan hanya untuk kalangan kampus, tetapi untuk masyarakat luas.
“Ia menulis tentang politik, sosial, dan komunikasi, tetapi lebih dari itu—ia menulis tentang wajah kita sebagai bangsa. Ia mengajak kita bercermin pada cita-cita kemerdekaan yang mulai kabur, pada arah perjalanan bangsa yang kadang goyah, dan pada realitas umat yang semakin terpinggirkan,” tutur JJ.
Menulis Hingga Detik Terakhir: Dedikasi Seorang Guru Bangsa
Yang paling dikenang JJ adalah keteguhan Aswar Hasan dalam menulis meski dalam kondisi sakit.
“Saya selalu terharu mengingat betapa di tengah keterbatasan fisiknya, ia masih menggerakkan jari-jarinya untuk menulis. Baginya, menyalakan api pengetahuan adalah kewajiban yang tak boleh padam, sekalipun rasa sakit mencoba menghentikannya.”
Melalui tulisannya, Aswar Hasan disebut JJ sebagai “penerang di tengah pusaran zaman”—sosok yang menegur dengan santun namun tegas, menuntun tanpa menggurui, dan mengingatkan kita agar tidak melupakan akar nilai kebangsaan.
Warisan yang Abadi: Pemikiran yang Takkan Pudar
JJ menegaskan bahwa meski Aswar Hasan telah tiada, pemikiran dan karyanya akan tetap hidup.
“Hari ini, Mantan Unhas kehilangan seorang panutan. Saya kehilangan sahabat dan teladan, seorang yang menghidupi ilmunya dengan ketulusan, mengabdikan pena untuk pencerahan, dan menyatukan kecerdasan akal dengan ketajaman nurani.”
Sebagai pimpinan Unhas, JJ menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan berjanji untuk merawat warisan intelektual Aswar Hasan.
“Kepergiannya meninggalkan sunyi, tetapi bukan kehampaan. Setiap kata, setiap tulisan yang ia tinggalkan adalah jejak abadi. Kami di Unhas akan terus menjaga api pemikirannya agar tetap menyala, melintasi zaman.”
Selamat Jalan, Sang Penerang Bangsa
Mengakhiri pernyataannya, JJ berdoa agar almarhum ditempatkan di sisi terbaik-Nya.
“Semoga kita yang masih di sini mampu melanjutkan warisan terbesarnya: keberanian untuk berpikir kritis dan ketulusan untuk berbagi ilmu. Selamat jalan, Kanda Aswar. Semoga Allah SWT menempatkanmu di antara hamba-hamba-Nya yang mulia. Amin.”
Duka dari Dunia Akademik dan Penyiaram
Aswar Hasan bukan hanya dikenang sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pengawas penyiaran yang berintegritas semasa menjabat di KPI. Banyak rekan sejawat, mahasiswa, dan praktisi media yang turut menyampaikan duka, membuktikan betapa luasnya pengaruh pemikiran almarhum.
Kini, Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya—seorang pemikir, penulis, dan guru bangsa yang karya-karyanya akan terus menjadi cahaya penuntun di tengah gelombang zaman.
Selamat jalan, Prof. Aswar Hasan. Jasamu abadi dalam setiap kata yang kau tinggalkan.







